楽しい画像投稿まとめエロサイト
アダルトブログランキング
Mengintip Isi Gedung Tugu Kunstkring Paleis Menteng, Tempat Prestisius Seniman pada Masa Lalu
公開日:2023/06/25 / 最終更新日:2023/06/25
Dulunya gedung ini dibangun https://www.thehunterhousecafe.com/ oleh arsitek PAJ Moojen untuk mewadahi kegiatan kelompok seni pada saat itu Nederlandsch Indische Kunstkring. Selain arsitek Moojen juga adalah pendiri kelompok seni tersebut.
Peletakan batu pertamanya diawali pada 1913. Kemudian pada 17 April 1914 gedung resmi dibuka oleh Gubernur Jenderal Pemerintah Hindia Belanda Frederick Idenburg.
Van Gogh dan Pablo Picasso
Seiring perkembangan waktu, gedung ini sempat berubah fungsi seiring perpindahan kekuasaan dari Pemerintah Hindia Belanda ke Pemerintah Pendudukan Jepang hingga Pemerintah Republik Indonesia.
Tercatat dalam sejarah pada kurun waktu 1942 – 1945, gedung ini pernah digunakan oleh kelompok Madjlis Islam Alaa Indonesia sebagai kantor pusat mereka. Selanjutnya pada 1950-1997, dimanfaatkan oleh Pemerintah sebagai kantor Imigrasi Jakarta Pusat.
Sempat terbengkalai dan hidup kembali
Hingga akhirnya pada April 2013, gedung tua ini dihidupkan kembali dengan nama Tugu Kunstkring Paleis oleh Anhar Setjadibrata, pendiri Tugu Group. Dengan tuan barunya itu, Kunstkring dilahirkan kembali. Wajah tuanya diremajakan seperti sediakala.
Tampilan eksterior gedung yang berlokasi di Jalan Teuku Umar, Godangdia, Menteng, Jakarta Pusat ini masih tetap terjaga. Kata-kata Immigrasie Nst-Djawa N Immigrasi yang menunjukan bahwa dahulu gedung ini adalah kantor imigrasi terpampang nyata di bagian fasad.
Kehadiran dua menara, atap genting, dan bukaan-bukaan lebar mencirikan langgam arsitektur kolonial yang menggabungkan unsur neo klasik, art deco, dan tropis pada bangunan ini
Begitu masuk ke dalam gedung langsung disambut gebyok pintu berukiran Jawa dengan warna keemasan. Setelah melewati gebyok ini, pengunjung berada di ruang Pangeran Diponegoro.
Kental sentuhan ornamen Keraton Jawa, di ruang ini, pengunjung disuguhkan lukisan kolosal tentang Pangeran Diponegoro bertajuk The Fall of Jawa berukuran 9 x 4 meter ini.
Keberadaan lukisan ini seakan menjadi panggung pertunjukan yang mengisahkan heroisme Pangeran Diponegoro melawan penjajah.
Ruang Multatulli dan Rijsttafel
Masuk ke ruang Kolonial Rijsttafel, tersedia satu meja bundar lengkap dengan delapan kursi kayu bergaya peranakan. Sementara di bagian dinding, terpasang lukisan klasik dan beberapa foto lawas.
Nama Rijsttafel sendiri diambil dari Bahasa Belanda yang bermakna meja nasi. Istilah ini merujuk pada cara penyajian makanan ala kolonial yang berkembang kala itu. Makanan-makanan Nusantara disajikan berurutan di atas meja. Dimulai dari makanan pembuka, hingga makanan penutup. Pengunjung di ruang ini dapat merasakan pengalaman itu.
Bersebelahan dengan Rijsttafel, terdapat ruang Multatulli. Pemilik Restoran mendedikasikan ruangan ini untuk Eduard Douwes Dekker yang terkenal dengan nama pena Multatulli, si penulis novel satir Max Havelar.
Di ruangan berkapasitas tempat duduk 12 orang ini, terpacak lukisan bergambar seorang sultan, raja, dan Multatuli sendiri di dinding. Namun unsur Nusantara begitu terasa dari perabotan ukiran seperti partisi dan tempat lilin berukiran Jawa.


「なし」カテゴリーの関連記事